Selasa, 01 Januari 2013

Semestinya Kita Bahagia di 2013

Ya, semestinya kita bahagia di tahun 2013. Kebahagiaan di definisikan sebagai terpenuhinya segala harapan dalam kenyataan. Apabila terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, maka kemungkinan untuk tidak bahagia mulai terbuka. Semakin kesenjangan terjadi, maka ketidakbahagiaan melingkupi kita. Maka selamanya manusia selalu mengejar harapan hidupnya agar tercapai kebahagian menurut dirinya.

Sebagian besar orang menggantungkan kebahagiaan pada raihan materi. Semakin banyak mengumpulkan materi, semakin besar kemungkinan orang menjadi bahagia. Kekayaan identik dengan kebahagiaan. Tidak salah. Bukankah mumet bukan main manakala kita bukan saja tidak punya uang namun juga dikejar kejar penagih utang, bukan?

Jadi, begitulah. Syarat mendasar kebahagian - suka tidak suka - adalah kebebasan finansial. Itu berarti anda punya cukup uang untuk membiayai kebutuhan dasar hidup. Makan, pakaian, rumah. Kendaraan, hiburan, wisata. Pendidikan anak, asuransi kesehatan, tabungan emas. Kehidupan sosial, sodakoh, torekat. Mungkin anda pensiun, menikmati hidup, dan mulai jadi sufi untuk persiapan mati.

Ya, mati. Mati tidak mengenal siapa anda. Mati tidak peduli anda. Anda harus mati, maka matilah anda. Apa yang anda miliki sungguh tidak lagi berarti. Semuanya tiba tiba menjadi kosong.

Minggu, 23 Desember 2012

Tentang Kejujuran

Kawan, hari ini saya bercerita tentang kejujuran. Baru saja saya menerima duit dari seseorang. Saya ngak periksa tuh uang. Ketika saya hitung di hadapan istri, jumlahnya berlebih dari sepantasnya yang saya terima. Saya terkejut, begitu juga istri. Ini jumlah yang ngak wajar. Akhirnya saya temui lagi orang yang ngasih uang tadi. Saya bilang jumlah ini berlebih, ngak pantas saya terima. Tapi dia bilang uangnya sudah dia hitung dan dia ikhlas dengan jumlah itu. Kami berdua bersikeras dengan jumlah hitungan masing masing. Akhirnya bersepakat saya hanya menerima setengah yang diberikan.

Begitu mengharukan apa yang dinamakan kejujuran. Ia adalah ciptaan Tuhan yang paling murni. Sudah lama saya merindukan kejujuran dalam kehidupan. Ia memberi damai dan ketenangan. Ia menyembuhkan, bukan membinasakan. Ia membuat hati kita lembut dan hidup.

Tulisan seperti ini hanya menuai cemoohan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Tapi, jangan jangan, hidup kita kacau balau karena kita sudah lupa dengan apa yang disebut dengan kejujuran.

Sabtu, 15 Desember 2012

Dengki

Salah satu kisah favorit saya adalah Luqman. Dia adalah kakek dari nabi Isa (Jesus dalam lidah Kristen). Pada suatu hari dia membawa lidah dan hati kambing dengan cara atraktif.  Luqman bukan tipe orang yang suka cari perhatian. Namun tindak tanduknya kali ini memang agak nyeleneh. Dia mendatangi sekumpulan orang orang yang sedang bergosip. Lalu bertanya : Apakah benda paling buruk di dunia? Orang orang menggelengkan kepala, antara bingung dan aneh. Luqman sendiri yang menjawab : dua benda inilah.... katanya sambil memperlihatkan lidah dan hati kambing tadi. Keruan orang yang berkerumun dan penasaran makin bertambah banyak. Salah satu hadirin kemudian bertanya : kalau begitu, hay Luqman, benda apakah paling baik sedunia? Luqman menyeruak kerumunan tanpa banyak berkata kata, bergegas pergi. Nampaknya dia sedang mencari mencari barang yang dipertanyakan itu. Orang orang masih berkerumun menunggu. Menunggu atraksi Luqman berikutnya. Akhirnya dia kembali, dan memperlihatkan dua buah benda. Nah, inilah barang terbaik di dunia, katanya.  Masih lidah dan hati kambing yang sama.

Kisah ini penting. Peperangan peperangan besar dalam sejarah lahir karena dengki. Banyak orang berpendapat perang salib adalah perang agama. Kalau saya melihatnya sebagai iri hati orang orang Eropa terhadap orang Arab yang lebih maju dan makmur kala itu. 

Dengki yang tidak terkendali melahirkan hasad (niat mencelakai) dan dendam kesumat. Potensi dengki ini sungguh unik dalam skala besar. Bayangkan kondisi dengki atau iri hati dalam sebuah bangsa.  Apakah potensi yang menyebabkan dengki dalam skala masal itu? Apalagi kalau buka urusan perut. Orang menyebutnya kesenjangan sosial. Segelintir orang superkaya pamer kekayaan. 90% orang tidak kaya sepakat untuk dengki dan hasad. Maka terjadilah revolusi sosial. Anda ingat 'revolusi' tahun1997 yang menjungkalkan seorang presiden di negeri ini? saya lebih melihatnya sebagai dua hal yang saling berhadap hadapan : segelintir orang makmur yang serakah dan suka pamer VS orang orang lapar yang kalah dan berontak menggugat nasibnya.

Potensi dengki ini hanya dapat di cegah dengan keadilan para pemimpinnya. Pemimpin yang adil di kantor dapat menghindari kadar dengki di antara para karyawannya dan menghindari gesekan gesekan yang tidak perlu. Pemimpin yang adil lebih suka berlelah lelah membagikan kartu sehat kepada masyarakat kantong cekak. Urusan urusan besar model masterplan mah sudah banyak orang pinter yang ngurusi. 

Terakhir saya ingin mengutip lelucon Gus Dur dalam kisah tiga orang yang terkatung katung di samudra luas akibat kapal mereka kandas. Ketiga orang itu berasal dari Amerika, Jepang, dan Indonesia berpegang pada sebongkah kayu yang terapung. Masing masing berdo'a demi keselamatan jiwa mereka. Tuhan mendengar do'a mereka. Dikirimlah para malaikat berdasar kebangsaan (memang malaikat punya kebangsaan?). Datanglah malaikat Amerika. Dia bertanya kepada si Amerika. Apa yang kau inginkan? Selamatkan aku! kata si Amrik. Maka malaikat Amrikpun menyelamatkannya. Dia dikembalikan ke rumahnya di Amerika. Kemudian datanglah malaikat Jepang dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama pula. Melihat rekan rekannya diprioritaskan, maka menggelegaklah api dengki dalam hati orang Indonesia. Pikirirannya gelap dibalut amarah. Maka ketika akhirnya datang juga malaikat Indonesia dan bertanya apa yang kau mau, maka tanpa pikir panjang si Indonesia menjawab : kembalikan dua rekanku ke sini!

Jumat, 14 Desember 2012

Uang Berkuasa

Akhirnya, harus kita akui, uanglah yang berkuasa. Siapa yang hidupnya bergelimang uang, dia lah yang berkuasa. Dia lah yang mempunyai kebebasan besar di dunia ini. Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang di dunia ini? Uang, sadar tidak sadar, telah menjadi tuhan kita semua. Mereka yang punya uang adalah tuhan baru buat kita. Mereka kita sembah. Mereka kita layani sepenuh hati, hanya karena khawatir sumber uang kita suatu saat ngambek. Dan kemudian berhenti mengucurkan dolarnya.

Pilihan rumah tangga nyaris hanya mempertimbangkan uang sebagai pondasi pembentukkannya. Mau bukti? banyak perempuan yang rela menjadi madu, bukan? alasannya apalagi kalau bukan fulus. Uang berkuasa. Tanpa uang tak ada kekuasaan. Begitu simpel, begitu tidak perlu pembuktian apapun lagi.

Para istri akan masih terus sayang suami, selama duit terus mengalir dari kantong suami. Suami bangkrut, maka istri siap siap mencari suami baru yang lebih menjanjikan. Siapa yang mau hidup melarat. Kalau istri lebih kaya? maka siap siaplah suami jadi pembantu.

Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Barang kali hanya malaikat maut yang tidak bisa dibeli. Ah, peduli banget. Selama nafas berhembus, ayo kita pesta  sampai pagi!

Orang Orang Kaya di Sekitar kita

Ini kisah nyata. Saya tinggal di kawasan pinggiran kota, dimana tinggal berbagai macam manusia. Mulai dari yang seksi sampai yang menyebalkan. Mulai dari yang pura pura kaya sampai yang kaya beneran.

Pura pura kaya? beneran. Orang tinggal di rumah standar perumahan dengan mobil lumayan keren. Pura pura kaya? beneran. Benar. Sebab kalau kaya kenapa anaknya sampai kurus kayak kurang gizi. Pura pura kaya, atau pelit nih? Saya curiga, jangan jangan kaya dipaksain. Dipaksain tampil kaya demi harga diri. Demikian ruwetkah kehidupan sosial kita. Alah, negara ini saja sudah demikian ruwet bukan?


Lalu orang kaya yang benar benar kaya? wadoh, beneran kaya. Duitnya seperti mata air yang tak pernah kering. Dia tipe orang  merantau ke Jakarta dan sukses menaklukkan ibu kota. Orang orang bilang dia dulu hanya seorang sopir angkot. Sekarang mobil macam apapun mampu dia beli. Urusan kawin lagi mah lewat. Pacar, mungkin tidak kehitung. Anak anaknya disekolahkan di sekolah paling top dengan uang jajan yang bikin ngiler anak saya. Tanah hektaran dia beli kayak beli pisang goreng. Para bodyguard dan para jongos siap melayani 24 jam. Investasinya terus merangkak dari waterboom sampai ranch gaya Amerika.

Dari mana dia dapat kekayaan sebanyak itu. Banyak orang yang bertanya. Banyak juga yang akhirnya tak peduli. Apalagi mereka yang hidupnya kecipratan manisnya dolar. Sedikit orang waras hanya bisa geleng geleng kepala. Dimata masyarakat kita, asal kekayaan tidaklah jadi soal. Kesilauan akan harta telah membutakan kehidupan sosial kita.

Pantas saja negara ini benar benar ruwet.

Si Tolol yang Beruntung

Orang tolol (setolol tololnya) kalah sama orang pintar. Orang pintar kalah sama orang yang beruntung, bahkan kalaupun orang yang beruntung itu setolol tololnya orang yang tolol. Makanya, jangan meremehkan orang yang tolol, sebab adakalanya mengalahkan anda yang pinter sekalipun. Coba pikir lagi, betul kan apa yang barusan katakan?

Kalau begitu, apa gunanya menjadi pintar dengan banyak baca buku, sekolah dengan banyak gelar, ikut seminar, beli e-book kalau jatuhnya anda kalah juga sama si tolol yang beruntung? 

Oh, friend. Coba selami hakekat. Apakah kamu benar benar menginginkan benda yang dipunyai si tolol beruntung itu? mempunyai cewek seperti cewek si tolol yang beruntung itu? mempunyai kedudukan yang dipunyai si tolol itu? Teman sebangku di SMA si goblog yang sekarang jadi wakil Bupati? Teman kuliah biasa biasa saja yang sekarang mobilnya bejibun dengan apartemen mewah? si remeh yang sekarang jadi selebriti terkenal dan banyak duit karena menjual kebegoannya? perpanjang lagi daftarnya. Maka makin banyak orang tolol yang beruntung.

Barang kali ini soal iri hati, atau soal ego yang yang terusik. Coba pikir lagi. Atau barang kali Tuhan memang sudah gila. Dia memberikan peruntunganNya seenak udelNya saja. Kamu manusia, jangan macam macam, Loe! Apa kecerdasanmu itu bisa mengalahkan Aku?

Oh, hidup memang ruwet. Sometimes, I hate life!

Sabtu, 01 Desember 2012

Saat Mimpi Tidak Terwujud

Saat mimpi tidak terwujud. Saat keinginan tidak tercapai. Saat angan tidak terpenuhi. Saat itu hati dipenuhi bara. Saat itu  marah. Saat itu lupa bahwa manusia ibaratnya hanya partikel debu di semesta. Apalah artinya mimpi mimpi itu bukan?

Bermimpilah. Tapi jangan abai. Mimpi tak selalu harus terwujud. Diperbolehkan bermimpi, tapi tak diberi kuasa untuk memastikan suatu mimpi terwujud. 

Tenanglah. Jangan panik. Hanya orang bodoh yang dikuasai nafsu. Dia akan dikalahkan waktu. Dia akan mendapat cerca. Dia hanya merendahkan dirinya sendiri. Bukan soal kalah atau menang. Bukan masalah sejarah yang lupa mencatat. Langit tak pernah lupa mencatat. Catatan di langit adalah catatan sejati.

Tenanglah. Cintai dirimu. Bukan dengan mencintai nafsumu. Jadilah orang cerdas. Sehingga orang memandangmu pantas. Berhentilah sejenak. Barangkali Tuhan menyuruhmu untuk berhenti. Hati yang galau tidak memberi apapun. Biarkan udara memberimu rasa ringan, kasih, dan kesejukan. Hanya dengan jalan itu semoga hidupmu abadi dalam damai.
(Do'a seorang bodoh yang sedang berputus asa)

Sabtu, 24 November 2012

Tadi malam saya bermimpi


Tadi malam saya bermimpi. Bermimpi bertemu seorang teman di masa lalu. Kenapa seorang bermimpi. Dan kenapa mimpi yang tertentu pula. Mestinya ada penjelasan di balik semua kejadian. Tetapi manusia tidak punya penjelasan untuk semua kejadian. Mereka hanya banyak bertanya tanya. Tapi setelah bangun saya punya penjelasan. 

Di masa lalu saya sempat bertanya akan bagaimana jadinya hidup saya di masa depan. Dengan siapa saya hidup, tinggal di mana. Dan apakah saya bahagia? Waktu itu jawabannya hanya gelap yang menggelantung. Sekarang jawabannya jelas. Hidup saya sekarang seperti ini. Pencapaian saya seperti ini. 

Jadi mimpi itu merupakan jawaban atas pertanyaan saya di masa lalu. Jawaban terhadap remaja usia belasan tahun yang resah dengan masa depannya. Mungkin jawaban itu juga berlaku untuk saya sekarang ini. Saya yang meresahkan masa pensiun saya. Hanya karena seorang rekan yang segera pensiun berlaku abnormal.

Hidup terlalu gelap dan pelik untuk dijelaskan. Mungkin menikmati hidup detik demi detik jauh lebih bijkasana dari pada meresahkan sesuatu yang tidak pasti. 

So...???

Jadi begini. Agama apapun, ajaran mana pun tidak ada yang melarang orang bermimpi. Tidak ada yang melarang untuk menjadi kaya dengan jumlah yang tak terbayang. Hanya koridor mencari kekayaan ini yang dicermati. Jadilah pekerja keras dan cerdas yang menjadikan anda pantas menjadi kaya. Anda bebas menikmati kekayaan dengan cara tanpa batas, namun salurkan sebagian kekayaan anda untuk orang orang tak seberuntung anda. Teruslah bermimpi, teruslah menikmati hidup. Terus juga ingat untuk mendapatkannya dengan cara terpuji dan jangan lupa bagi bagi buat sesama.

Cara mencari nafkah (2)

Sebenarnya, apa urusannya kita ribut ribut dengan mengkritisi cara mencari nafkah ini. Kontra produktif, itu jawabannya. Sejumlah materi yang didapat secara illegal atau tidak syah, secara alamiah akan kembali dicabut keberadaanya dari orang atau keluarga bersangkutan. Ini bukan soal ilmu eksakta. Ini hanya bisa difahami dari sisi kacamata spiritual atau hukum alam. Sayang tidak setiap orang setuju dengan pendapat ini. Dan buktinya, banyak orang berjaya walau harta mereka diragukan sumber atau asal usulnya.

Akan semakin banyak orang yang tidak sependapat bila hal ini dihubungkan dengan sudut pandang agama. Mereka akan menuding tokoh tokoh agama pun melakukan praktik serupa, bahkan mengatasnamakan agama pula.

Urusannya akan semakin kisruh kalau diteruskan. Saya hanya akan mengatakan, ini kembali kepada keputusan individu. Silakan untuk mengambil keputusan apapun di ranah ini. Namun diingatkan, kosekuensi logis dari setiap keputusan, anda harus siap menghadapinya.

Sejauh yang saya perhatikan, hukum alam masih bekerja. Ia akan merenggut kembali harta yang kita peroleh secara illegal, seberapapun canggih dan amannya. Barangkali memang tak tersentuh tangan hukum formal. Yang kita takutkan adalah karma buruk yang harus ditanggung. 

Cara mencari nafkah

Urusan cari duit jangan dianggap sepele. Ini akan berhubungan dengan kualitas hidup anda. Masyarakat kita ( Indonesia ) memang agak kurang hirau terhadap cara seseorang atau sebuah keluarga mendapatkan nafkah hidupnya. Bagi masyarakat kita, seseorang atau sebuah keluarga dianggap terhormat dan sukses bila telah memiliki kelebihan harta. Harta yang melimpah ruah tidak menjadikan masyarakat kita kritis bertanya tanya dari mana asal harta sebanyak itu. Apalagi kalau keluarga itu dianggap dermawan, suka bagi bagi duit. Masyarakat kita akan makin apatis. Mereka nampaknya sudah terlalu toleran dengan urusan yang satu ini.

Seorang Pegawai Negeri Sipil yang kaya raya melebihi pendapatannya akan dianggap biasa oleh masyarakat kita. Mereka bisa jadi kebanggaan keluarga besarnya, dan akan dibangga banggakan sebagai pahlawan yang mengangkat harkat derajat keluarga besar. Sekali lagi 'syah'kah perilaku itu?

Hal ini penting untuk dijawab. Bahkan saya berani mengatakan bahwa kualitas suatu bangsa bisa dibenahi dari kualitas cara keluarga bangsa dalam mencari nafkah. Bila aspek illegal banyak mempengaruhi cara mencari nafkah suatu bangsa, maka keberkahan akan sulit didapat. Orang akan berlomba lomba duduk di eksekutif, legislatif, dan yudikatif hanya dengan tujuan untuk meraih kejayaan materi. Ribuan orang menjadi anggota Dewan hanya untuk memperbaiki taraf hirup. Atau malah menjadi anggota Dewan di mata mereka tak ubahnya bursa lowongan kerja. Demikian pula menjadi PNS. Maka kereka datang ke kantor masing masing tiap harinya dengan mindset berapa uang yang dapat mereka bawa ke rumah hari ini.



Jumat, 23 November 2012

Resah tanpa uang


Di kehidupan modern, anda butuh uang untuk bertahan hidup. Anda butuh uang untuk membeli makanan, pakaian, rumah, dan kendaraan. Bila uang tak ada, maka anda resah. Anda tak punya uang untuk membeli apapun untuk bertahan hidup. Masyarakat modern telah membikin sistemnya sendiri, dan sistem itu telah membelenggunya dengan jeratan uang.

Mari kita berandai andai. Hidup tanpa uang. Bisa? Setidaknya kita bisa melihat kehidupan komunitas Baduy, di Kanekes, Banten. Mereka komunitas, seperti kita, yang menciptakan sistem kehidupannya sendiri. Tanpa uang mereka tidak resah. Uang tidak memegang peranan penting dalam kehidupan mereka. Rata rata rumah tangga memiliki kekayaan yang setara, dengan luasan rumah yang setara juga. Untuk kelangsungan hidup, terutama pangan, mereka telah mempunyai sistem ketahanan pangan yang teruji ratusan tahun. Mereka menanam padi, untuk di makan dan disimpan. Tidak ada kisah orang Baduy kelaparan. Mereka punya leuit, lumbung padi tradisional, yang menyimpan padi mereka. Leuit ini kebanyakan menyimpan padi, yang umurnya bahkan bisa 50 tahunan. Luar biasa.

Berbeda dengan masyarakat modern, mereka tidak mengeksploitasi alam secara berlebih. Mereka memilih berdamai dengan alam. Tanah dilarang di rekayasa. Pohon dilarang ditebang. Tak heran, hutan ( leuweung kata mereka) lestari. Mereka tak pernah kekurangan air. Mereka tak pernah kekurangan udara segar. Mereka sehat karena untuk transpotasi dilakukan dengan berjalan kaki. Barangkali tidak ada penyakit diabetes di antara mereka. Primitif?  Sebenarnya yang primitif kita atau mereka?

Senin, 19 November 2012

Budaya Kecelakaan.


Apa yang terjadi bila terjadi kecelakaan di jalan raya? maka terjadilah macet. Berbondong bondong orang 'menyaksikan' atraksi kecelakaan itu. Dalam hitungan menit orang menyemut. Semua orang berebut bicara ketimbang hirau untuk menyelamatkan yang celaka. Para pengendara motor menepi untuk melihat apa yang terjadi. Pengendara mobil melambatkan diri untuk sekedar bertanya atau memberi kesempatan penumpang untuk melongok ke TKP. Kegiatan terhenti untuk sesuatu yang sensasional.

Itulah sebabnya infotainment laris manis. 

Kelakuan Kita itu.


Di posting sebelumnya saya menyoroti kelakuan selebriti kita. Tapi tak kalah menarik sebenarnya kelakuan dari kebanyakan kita. Tak kalah 'aneh' juga. Kita kebanyakan maunya segala sesuatu serba gratisan alias ngak mau bayar. Software gratisan. MP3 gratisan. Kursus gratisan. Sekolah gratisan. Naik angkutan gratisan. Makan siang gratisan. Nonton gratisan. Ujung ujungnya mabuk dan tawuran. Maunya ngak mau bayar. Maunya gratisan melulu. Yang lebih parah dari itu adalah kita sering kali tidak menghargai karya atau hak cipta milik atau hak kekayaan intelektual seseorang. Dengan mudah kita mencomot karya orang lain dan mengobralnya dengan freedownload di situs kita sendiri. Itu sebabnya clickbank ogah nongkrong di Indonesia.

Budaya gratisan ini menyebabkan kereta kita selalu penuh sampai ke atap. Pembagian zakat atau daging kurban selalu ricuh. Kampanye pilkada selalu semrawut dengan pembagian uang dan sembako gratis. Mal mal selalu pasang iklan diskon sampai gratis sepanjang tahun. BLT tetap dinanti. Bela belain sampai demo menuntut THR. Ketemu saudara di hari lebaran, tangan kita sudah kayak pengemis aja. Kalau ada yang gratisan, kenapa harus bayar? Listrik PLN dicuri. Wuuuzzz, jalan jalan ke luar negeri juga gratisan. Bisa? di negeri ini semua serba bisa lah.

Apa yang terjadi bila kita berharap semua serba gratisan. Ya, rejeki yang kita terima juga serba gratisan. Barang gratis itu kebanyakan bukan benda terbaik yang bisa kita peroleh. Harga diri juga hanya sebatas level gratisan. Karena terbiasa gratisan, kita terbiasa kikir karena mind set kita terpola duafa. Rejeki rendah. Harga diri rendah. Kontribusi sosial rendah. Jadilah kita melarat.

Jadi kunci untuk tidak melarat adalah kebalikannya. Punyailah harga diri. Jangan ambil tu BLT. Kalau lebaran jangan nerima, tapi memberi. Beli software, beli album original. Idul adha, sembelih kurban. Jangan cuma mau sate gratisan. Ke mesjid, isi keropak minimal Rp. 50.000,-. Maka jadilah kita orang kaya dengan harga diri pula.

Kelakuan Selebriti Kita.


Kelakuan sebagian selebriti kita sungguh keterlaluan. Terutama yang berprofesi artis dan pengacara. Mereka sepertinya tak segan pamer kekayaan. Kendaraan milyaran, dipamerkan. Rumah, trilyunan mungkin, dipamerkan juga. Belum perhiasan yang dikenakan. Hadiah ulang tahun untuk anak, gila gilaan. Tahu apa seorang anak usia belasan dengan hadiah mobil mewahnya? Dan semuanya diekspos ke publik tanpa rasa malu. Katanya ini adalah ganjaran atas kerja keras mereka selama ini. Pantaskah perilaku mereka?

Menurut saya, kurang pantas. Di tengah masih banyaknya orang miskin di sekitar kita, sungguh keterlaluan sikap mereka itu. Apalagi aksi sosial mereka nyaris tak terdengar. Paling banter mereka mengumpulkan anak anak yatim untuk diajak berdo'a bagi kesehatan mereka. Kontribusinya untuk bangsa, apalagi. Mereka tak lebih orang orang egois yang hidup sendirian tanpa idealisme yang jelas. Sesungguhnya bangsa ini tak perlu mereka. Saya lebih respek kepada mereka yang meninggalkan kenyamanan hidup demi mengajar anak anak di pelosok negeri dan di perbatasan yang sering di abaikan.

Nah, kalau anda sudah punya duit milyaran, jangan kemaruk. 10% saja anda donasikan untuk bea siswa anak anak cerdas mungkin akan membuat perbedaan bagi bangsa ini. Entah 10, 20, atau 50 tahun lagi dari sekarang. Disaat anda sudah dimakan cacing cacing tanah, mungkin yang 10% itu bisa menyelamatkan anda dari api neraka.

Apa yang akan dilakukan bila mendapat duit 15 milyar.


Ya, apa yang akan dilakukan bila anda atau saya mendapat uang 15 M. Uang 15 M ini untuk ukuran orang Indonesia cukup bayak. Setara 1,5 juta dollar juga mungkin banyak untuk orang Amerika. Jadi apa yang akan anda lakukan bila anda memilikinya?

Saya pribadi tetap berpendapat tidak perlu ekspos berlebih bila anda punya uang sebanyak itu. Baik dalam bentuk celotehan, atau penampilan. Berjalanlah seperti orang kebanyakan. Namun keputusan paling cepat saat itu adalah secara administratif membereskan akses terhadap uang dalam kerangka perbankan. Anda tidak akan begitu saja membawa bawa uang cash dalam jumlah banyak dalam dompet anda bukan. Jadi mulai dengan aplikasi ATM dan kartu kredit dari bank yang punya jaringan luas. Pertimbangkan juga untuk membeli produk asuransi yang sesuai. Konversi sebagian uang anda dalam bentuk logam mulia/ mas. Anda mulai bisa menernakannya dengan pola gadai. Jadi uang yang ada diselamatkan dari tergerus inflasi dalam bentuk logam mulia sekaligus menerima pasif income dari ternaknya. 

Nah, mulai menikmati hidup. Jangan sekali sekali untuk pamer kekayaan. Kendarai kendaraan yang dimiliki sekarang sepanjang masih nyaman. Mungkin sedikit memanjakan tubuh tidak ada salahnya. Namun tidak tidak terjebak dalam shopping maniak. Fungsi baju adalah membuat tubuh sehat dan sekedar menerima respek sewajarnya dari orang sekitar. Makan terkendali. Tetaplah sehat.   

Minggu, 18 November 2012

Mimpi Sepele

Kadang kadang mimpi sepele juga menyenangkan. Sekarang bisa berinternet ria cuma bayar gocap ( Rp. 50.000) untuk sebulan. Kecepatan lumayan lah. Kalau disebutin providernya disangka promosi. Tapi, itu lho yang warnanya ungu. 

Mimpi itu menumbuhkan optimisme.



Ya, mimpi dan cita cita itu menumbuhkan optimisme. Seberapa burukpun kondisi anda sekarang, selalu ada alasan bahwa di ujung sana cita cita dan mimpi anda masih menunggu untuk diwujudkan. apakah dijamin apa yang kita cita citakan akan terwujud. Secara pribadi, berdasar pengalaman selama ini, saya percaya. Walaupun mungkin wujud mimpi itu tak selalu harus sama. 

Dulu saya memimpikan hidup di pantai. Sepuluh tahun kemudian saya benar benar tinggal di pantai, bukan atas kehendak sendiri, tetapi karena tuntutan pekerjaan. Waktu SD, sedan yang saya kagumi adalah jenis Honda Accord. Setelah bekerja saya benar benar punya sedan jenis itu. Nyesel juga kenapa ngak mengagumi Jaguar. Law Attraction itu ada benarnya.

Sekarang saya bercita cita jadi milyuner rahasia. Artinya saya punya duit milyaran tanpa seorangpun tahu. Penampilan tetap saya jaga seperti sekarang ini. Sederhana. Namun saya bisa pergi kemana saja dalam hitungan detik. Bila perlu, pake pesawat jet carteran. Teruslah bermimpi.

Travelling, jalan mana yang ditempuh?

Travelling selalu banyak dicita-citakan. Jangan mati dulu sebelum ke Paris. Atau ke Bali. Kenapa Bandung dan Puncak macet saat masa libur? Karena setiap orang berlomba travelling saat itu. Bus bus travel soldout. Mobil mobil rental sami mawon. Anak anak sekolah pun study tour, jatuh jatuhnya travelling juga. Jadi selamanya manusia merindukan travelling. 

Yang membedakan satu travelling dengan travelling lainnya hanya dua saja : cara dan tujuan. Travelling ke Bali dapat dilakukan dengan cara menginap di hotel atau backpacker dengan lesehan di pantai Kuta sampai subuh. Dua cara itu tak selalu bergantung pada duit. Bisa jadi para backpacker itu milioner yang nyari sensasi karena bosan dengan hotel berbintang. Mereka dapat berkomunikasi dengan budaya lokal dengan lebih dekat. 

Tujuan travel sering kali aneh aneh. Orang daerah akan membidik Taman mini, Dufan, dan kini mungkin Trans Studio Bandung. Orang kota bilang, Lu kampungan. Orang metropolitan yang bosan ke mal akan menyerbu gunung dan pantai. Orang setempat bilang, ayo datang lebih banyak kagi, kami akan buka lapak lebih banyak lagi. 

Saya? Kalau kebetulan punya duit lebih suka menikmati tidur kesiangan di kamar hotel. Ngak mau diatur jadwal. Tapi lebih suka bergabung dalam rombongan travel. Ha? Yang jelas noway untuk backpacker. Noway untuk macet ala Bandung on the weekend. Tapi juga bosan dengan pantai seperti pantai Carita. Lebih ngefeel dengan pangandaran. I hate Jakarta. Dasar, sebenarnya kamu ngak punya duit buat jalan jalan, kan?

Ranch, back to nature


Liar. Mimpi bisa kemana saja membawamu pergi. Di satu sisi serasa ingin menikmati kehidupan di atas boat mengarungi teluk biru. Tapi sisi mimpi yang lain mendambakan kehidupan di sebuah ranch. Rumput hijau, sapi sapi yang diperah susunya. Kuda kuda untuk tunggangan. Mungkin di kombinasi leuit ala baduy. Listrik dari panel surya. Atau dari tenaga angin. Air dari mata air. Petiklah sayur mayur setiap pagi. Malam malam bisa memanggang sate dari kambing yang baru saja disembelih. Nikmati gemintang sambil berbaring di rerumputan. Kayak buku buku Lima Sekawan karya Enyd Blyton.