Minggu, 18 November 2012

Travelling, jalan mana yang ditempuh?

Travelling selalu banyak dicita-citakan. Jangan mati dulu sebelum ke Paris. Atau ke Bali. Kenapa Bandung dan Puncak macet saat masa libur? Karena setiap orang berlomba travelling saat itu. Bus bus travel soldout. Mobil mobil rental sami mawon. Anak anak sekolah pun study tour, jatuh jatuhnya travelling juga. Jadi selamanya manusia merindukan travelling. 

Yang membedakan satu travelling dengan travelling lainnya hanya dua saja : cara dan tujuan. Travelling ke Bali dapat dilakukan dengan cara menginap di hotel atau backpacker dengan lesehan di pantai Kuta sampai subuh. Dua cara itu tak selalu bergantung pada duit. Bisa jadi para backpacker itu milioner yang nyari sensasi karena bosan dengan hotel berbintang. Mereka dapat berkomunikasi dengan budaya lokal dengan lebih dekat. 

Tujuan travel sering kali aneh aneh. Orang daerah akan membidik Taman mini, Dufan, dan kini mungkin Trans Studio Bandung. Orang kota bilang, Lu kampungan. Orang metropolitan yang bosan ke mal akan menyerbu gunung dan pantai. Orang setempat bilang, ayo datang lebih banyak kagi, kami akan buka lapak lebih banyak lagi. 

Saya? Kalau kebetulan punya duit lebih suka menikmati tidur kesiangan di kamar hotel. Ngak mau diatur jadwal. Tapi lebih suka bergabung dalam rombongan travel. Ha? Yang jelas noway untuk backpacker. Noway untuk macet ala Bandung on the weekend. Tapi juga bosan dengan pantai seperti pantai Carita. Lebih ngefeel dengan pangandaran. I hate Jakarta. Dasar, sebenarnya kamu ngak punya duit buat jalan jalan, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar