Minggu, 23 Desember 2012

Tentang Kejujuran

Kawan, hari ini saya bercerita tentang kejujuran. Baru saja saya menerima duit dari seseorang. Saya ngak periksa tuh uang. Ketika saya hitung di hadapan istri, jumlahnya berlebih dari sepantasnya yang saya terima. Saya terkejut, begitu juga istri. Ini jumlah yang ngak wajar. Akhirnya saya temui lagi orang yang ngasih uang tadi. Saya bilang jumlah ini berlebih, ngak pantas saya terima. Tapi dia bilang uangnya sudah dia hitung dan dia ikhlas dengan jumlah itu. Kami berdua bersikeras dengan jumlah hitungan masing masing. Akhirnya bersepakat saya hanya menerima setengah yang diberikan.

Begitu mengharukan apa yang dinamakan kejujuran. Ia adalah ciptaan Tuhan yang paling murni. Sudah lama saya merindukan kejujuran dalam kehidupan. Ia memberi damai dan ketenangan. Ia menyembuhkan, bukan membinasakan. Ia membuat hati kita lembut dan hidup.

Tulisan seperti ini hanya menuai cemoohan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Tapi, jangan jangan, hidup kita kacau balau karena kita sudah lupa dengan apa yang disebut dengan kejujuran.

Sabtu, 15 Desember 2012

Dengki

Salah satu kisah favorit saya adalah Luqman. Dia adalah kakek dari nabi Isa (Jesus dalam lidah Kristen). Pada suatu hari dia membawa lidah dan hati kambing dengan cara atraktif.  Luqman bukan tipe orang yang suka cari perhatian. Namun tindak tanduknya kali ini memang agak nyeleneh. Dia mendatangi sekumpulan orang orang yang sedang bergosip. Lalu bertanya : Apakah benda paling buruk di dunia? Orang orang menggelengkan kepala, antara bingung dan aneh. Luqman sendiri yang menjawab : dua benda inilah.... katanya sambil memperlihatkan lidah dan hati kambing tadi. Keruan orang yang berkerumun dan penasaran makin bertambah banyak. Salah satu hadirin kemudian bertanya : kalau begitu, hay Luqman, benda apakah paling baik sedunia? Luqman menyeruak kerumunan tanpa banyak berkata kata, bergegas pergi. Nampaknya dia sedang mencari mencari barang yang dipertanyakan itu. Orang orang masih berkerumun menunggu. Menunggu atraksi Luqman berikutnya. Akhirnya dia kembali, dan memperlihatkan dua buah benda. Nah, inilah barang terbaik di dunia, katanya.  Masih lidah dan hati kambing yang sama.

Kisah ini penting. Peperangan peperangan besar dalam sejarah lahir karena dengki. Banyak orang berpendapat perang salib adalah perang agama. Kalau saya melihatnya sebagai iri hati orang orang Eropa terhadap orang Arab yang lebih maju dan makmur kala itu. 

Dengki yang tidak terkendali melahirkan hasad (niat mencelakai) dan dendam kesumat. Potensi dengki ini sungguh unik dalam skala besar. Bayangkan kondisi dengki atau iri hati dalam sebuah bangsa.  Apakah potensi yang menyebabkan dengki dalam skala masal itu? Apalagi kalau buka urusan perut. Orang menyebutnya kesenjangan sosial. Segelintir orang superkaya pamer kekayaan. 90% orang tidak kaya sepakat untuk dengki dan hasad. Maka terjadilah revolusi sosial. Anda ingat 'revolusi' tahun1997 yang menjungkalkan seorang presiden di negeri ini? saya lebih melihatnya sebagai dua hal yang saling berhadap hadapan : segelintir orang makmur yang serakah dan suka pamer VS orang orang lapar yang kalah dan berontak menggugat nasibnya.

Potensi dengki ini hanya dapat di cegah dengan keadilan para pemimpinnya. Pemimpin yang adil di kantor dapat menghindari kadar dengki di antara para karyawannya dan menghindari gesekan gesekan yang tidak perlu. Pemimpin yang adil lebih suka berlelah lelah membagikan kartu sehat kepada masyarakat kantong cekak. Urusan urusan besar model masterplan mah sudah banyak orang pinter yang ngurusi. 

Terakhir saya ingin mengutip lelucon Gus Dur dalam kisah tiga orang yang terkatung katung di samudra luas akibat kapal mereka kandas. Ketiga orang itu berasal dari Amerika, Jepang, dan Indonesia berpegang pada sebongkah kayu yang terapung. Masing masing berdo'a demi keselamatan jiwa mereka. Tuhan mendengar do'a mereka. Dikirimlah para malaikat berdasar kebangsaan (memang malaikat punya kebangsaan?). Datanglah malaikat Amerika. Dia bertanya kepada si Amerika. Apa yang kau inginkan? Selamatkan aku! kata si Amrik. Maka malaikat Amrikpun menyelamatkannya. Dia dikembalikan ke rumahnya di Amerika. Kemudian datanglah malaikat Jepang dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama pula. Melihat rekan rekannya diprioritaskan, maka menggelegaklah api dengki dalam hati orang Indonesia. Pikirirannya gelap dibalut amarah. Maka ketika akhirnya datang juga malaikat Indonesia dan bertanya apa yang kau mau, maka tanpa pikir panjang si Indonesia menjawab : kembalikan dua rekanku ke sini!

Jumat, 14 Desember 2012

Uang Berkuasa

Akhirnya, harus kita akui, uanglah yang berkuasa. Siapa yang hidupnya bergelimang uang, dia lah yang berkuasa. Dia lah yang mempunyai kebebasan besar di dunia ini. Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang di dunia ini? Uang, sadar tidak sadar, telah menjadi tuhan kita semua. Mereka yang punya uang adalah tuhan baru buat kita. Mereka kita sembah. Mereka kita layani sepenuh hati, hanya karena khawatir sumber uang kita suatu saat ngambek. Dan kemudian berhenti mengucurkan dolarnya.

Pilihan rumah tangga nyaris hanya mempertimbangkan uang sebagai pondasi pembentukkannya. Mau bukti? banyak perempuan yang rela menjadi madu, bukan? alasannya apalagi kalau bukan fulus. Uang berkuasa. Tanpa uang tak ada kekuasaan. Begitu simpel, begitu tidak perlu pembuktian apapun lagi.

Para istri akan masih terus sayang suami, selama duit terus mengalir dari kantong suami. Suami bangkrut, maka istri siap siap mencari suami baru yang lebih menjanjikan. Siapa yang mau hidup melarat. Kalau istri lebih kaya? maka siap siaplah suami jadi pembantu.

Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Barang kali hanya malaikat maut yang tidak bisa dibeli. Ah, peduli banget. Selama nafas berhembus, ayo kita pesta  sampai pagi!

Orang Orang Kaya di Sekitar kita

Ini kisah nyata. Saya tinggal di kawasan pinggiran kota, dimana tinggal berbagai macam manusia. Mulai dari yang seksi sampai yang menyebalkan. Mulai dari yang pura pura kaya sampai yang kaya beneran.

Pura pura kaya? beneran. Orang tinggal di rumah standar perumahan dengan mobil lumayan keren. Pura pura kaya? beneran. Benar. Sebab kalau kaya kenapa anaknya sampai kurus kayak kurang gizi. Pura pura kaya, atau pelit nih? Saya curiga, jangan jangan kaya dipaksain. Dipaksain tampil kaya demi harga diri. Demikian ruwetkah kehidupan sosial kita. Alah, negara ini saja sudah demikian ruwet bukan?


Lalu orang kaya yang benar benar kaya? wadoh, beneran kaya. Duitnya seperti mata air yang tak pernah kering. Dia tipe orang  merantau ke Jakarta dan sukses menaklukkan ibu kota. Orang orang bilang dia dulu hanya seorang sopir angkot. Sekarang mobil macam apapun mampu dia beli. Urusan kawin lagi mah lewat. Pacar, mungkin tidak kehitung. Anak anaknya disekolahkan di sekolah paling top dengan uang jajan yang bikin ngiler anak saya. Tanah hektaran dia beli kayak beli pisang goreng. Para bodyguard dan para jongos siap melayani 24 jam. Investasinya terus merangkak dari waterboom sampai ranch gaya Amerika.

Dari mana dia dapat kekayaan sebanyak itu. Banyak orang yang bertanya. Banyak juga yang akhirnya tak peduli. Apalagi mereka yang hidupnya kecipratan manisnya dolar. Sedikit orang waras hanya bisa geleng geleng kepala. Dimata masyarakat kita, asal kekayaan tidaklah jadi soal. Kesilauan akan harta telah membutakan kehidupan sosial kita.

Pantas saja negara ini benar benar ruwet.

Si Tolol yang Beruntung

Orang tolol (setolol tololnya) kalah sama orang pintar. Orang pintar kalah sama orang yang beruntung, bahkan kalaupun orang yang beruntung itu setolol tololnya orang yang tolol. Makanya, jangan meremehkan orang yang tolol, sebab adakalanya mengalahkan anda yang pinter sekalipun. Coba pikir lagi, betul kan apa yang barusan katakan?

Kalau begitu, apa gunanya menjadi pintar dengan banyak baca buku, sekolah dengan banyak gelar, ikut seminar, beli e-book kalau jatuhnya anda kalah juga sama si tolol yang beruntung? 

Oh, friend. Coba selami hakekat. Apakah kamu benar benar menginginkan benda yang dipunyai si tolol beruntung itu? mempunyai cewek seperti cewek si tolol yang beruntung itu? mempunyai kedudukan yang dipunyai si tolol itu? Teman sebangku di SMA si goblog yang sekarang jadi wakil Bupati? Teman kuliah biasa biasa saja yang sekarang mobilnya bejibun dengan apartemen mewah? si remeh yang sekarang jadi selebriti terkenal dan banyak duit karena menjual kebegoannya? perpanjang lagi daftarnya. Maka makin banyak orang tolol yang beruntung.

Barang kali ini soal iri hati, atau soal ego yang yang terusik. Coba pikir lagi. Atau barang kali Tuhan memang sudah gila. Dia memberikan peruntunganNya seenak udelNya saja. Kamu manusia, jangan macam macam, Loe! Apa kecerdasanmu itu bisa mengalahkan Aku?

Oh, hidup memang ruwet. Sometimes, I hate life!

Sabtu, 01 Desember 2012

Saat Mimpi Tidak Terwujud

Saat mimpi tidak terwujud. Saat keinginan tidak tercapai. Saat angan tidak terpenuhi. Saat itu hati dipenuhi bara. Saat itu  marah. Saat itu lupa bahwa manusia ibaratnya hanya partikel debu di semesta. Apalah artinya mimpi mimpi itu bukan?

Bermimpilah. Tapi jangan abai. Mimpi tak selalu harus terwujud. Diperbolehkan bermimpi, tapi tak diberi kuasa untuk memastikan suatu mimpi terwujud. 

Tenanglah. Jangan panik. Hanya orang bodoh yang dikuasai nafsu. Dia akan dikalahkan waktu. Dia akan mendapat cerca. Dia hanya merendahkan dirinya sendiri. Bukan soal kalah atau menang. Bukan masalah sejarah yang lupa mencatat. Langit tak pernah lupa mencatat. Catatan di langit adalah catatan sejati.

Tenanglah. Cintai dirimu. Bukan dengan mencintai nafsumu. Jadilah orang cerdas. Sehingga orang memandangmu pantas. Berhentilah sejenak. Barangkali Tuhan menyuruhmu untuk berhenti. Hati yang galau tidak memberi apapun. Biarkan udara memberimu rasa ringan, kasih, dan kesejukan. Hanya dengan jalan itu semoga hidupmu abadi dalam damai.
(Do'a seorang bodoh yang sedang berputus asa)