Sabtu, 24 November 2012

Tadi malam saya bermimpi


Tadi malam saya bermimpi. Bermimpi bertemu seorang teman di masa lalu. Kenapa seorang bermimpi. Dan kenapa mimpi yang tertentu pula. Mestinya ada penjelasan di balik semua kejadian. Tetapi manusia tidak punya penjelasan untuk semua kejadian. Mereka hanya banyak bertanya tanya. Tapi setelah bangun saya punya penjelasan. 

Di masa lalu saya sempat bertanya akan bagaimana jadinya hidup saya di masa depan. Dengan siapa saya hidup, tinggal di mana. Dan apakah saya bahagia? Waktu itu jawabannya hanya gelap yang menggelantung. Sekarang jawabannya jelas. Hidup saya sekarang seperti ini. Pencapaian saya seperti ini. 

Jadi mimpi itu merupakan jawaban atas pertanyaan saya di masa lalu. Jawaban terhadap remaja usia belasan tahun yang resah dengan masa depannya. Mungkin jawaban itu juga berlaku untuk saya sekarang ini. Saya yang meresahkan masa pensiun saya. Hanya karena seorang rekan yang segera pensiun berlaku abnormal.

Hidup terlalu gelap dan pelik untuk dijelaskan. Mungkin menikmati hidup detik demi detik jauh lebih bijkasana dari pada meresahkan sesuatu yang tidak pasti. 

So...???

Jadi begini. Agama apapun, ajaran mana pun tidak ada yang melarang orang bermimpi. Tidak ada yang melarang untuk menjadi kaya dengan jumlah yang tak terbayang. Hanya koridor mencari kekayaan ini yang dicermati. Jadilah pekerja keras dan cerdas yang menjadikan anda pantas menjadi kaya. Anda bebas menikmati kekayaan dengan cara tanpa batas, namun salurkan sebagian kekayaan anda untuk orang orang tak seberuntung anda. Teruslah bermimpi, teruslah menikmati hidup. Terus juga ingat untuk mendapatkannya dengan cara terpuji dan jangan lupa bagi bagi buat sesama.

Cara mencari nafkah (2)

Sebenarnya, apa urusannya kita ribut ribut dengan mengkritisi cara mencari nafkah ini. Kontra produktif, itu jawabannya. Sejumlah materi yang didapat secara illegal atau tidak syah, secara alamiah akan kembali dicabut keberadaanya dari orang atau keluarga bersangkutan. Ini bukan soal ilmu eksakta. Ini hanya bisa difahami dari sisi kacamata spiritual atau hukum alam. Sayang tidak setiap orang setuju dengan pendapat ini. Dan buktinya, banyak orang berjaya walau harta mereka diragukan sumber atau asal usulnya.

Akan semakin banyak orang yang tidak sependapat bila hal ini dihubungkan dengan sudut pandang agama. Mereka akan menuding tokoh tokoh agama pun melakukan praktik serupa, bahkan mengatasnamakan agama pula.

Urusannya akan semakin kisruh kalau diteruskan. Saya hanya akan mengatakan, ini kembali kepada keputusan individu. Silakan untuk mengambil keputusan apapun di ranah ini. Namun diingatkan, kosekuensi logis dari setiap keputusan, anda harus siap menghadapinya.

Sejauh yang saya perhatikan, hukum alam masih bekerja. Ia akan merenggut kembali harta yang kita peroleh secara illegal, seberapapun canggih dan amannya. Barangkali memang tak tersentuh tangan hukum formal. Yang kita takutkan adalah karma buruk yang harus ditanggung. 

Cara mencari nafkah

Urusan cari duit jangan dianggap sepele. Ini akan berhubungan dengan kualitas hidup anda. Masyarakat kita ( Indonesia ) memang agak kurang hirau terhadap cara seseorang atau sebuah keluarga mendapatkan nafkah hidupnya. Bagi masyarakat kita, seseorang atau sebuah keluarga dianggap terhormat dan sukses bila telah memiliki kelebihan harta. Harta yang melimpah ruah tidak menjadikan masyarakat kita kritis bertanya tanya dari mana asal harta sebanyak itu. Apalagi kalau keluarga itu dianggap dermawan, suka bagi bagi duit. Masyarakat kita akan makin apatis. Mereka nampaknya sudah terlalu toleran dengan urusan yang satu ini.

Seorang Pegawai Negeri Sipil yang kaya raya melebihi pendapatannya akan dianggap biasa oleh masyarakat kita. Mereka bisa jadi kebanggaan keluarga besarnya, dan akan dibangga banggakan sebagai pahlawan yang mengangkat harkat derajat keluarga besar. Sekali lagi 'syah'kah perilaku itu?

Hal ini penting untuk dijawab. Bahkan saya berani mengatakan bahwa kualitas suatu bangsa bisa dibenahi dari kualitas cara keluarga bangsa dalam mencari nafkah. Bila aspek illegal banyak mempengaruhi cara mencari nafkah suatu bangsa, maka keberkahan akan sulit didapat. Orang akan berlomba lomba duduk di eksekutif, legislatif, dan yudikatif hanya dengan tujuan untuk meraih kejayaan materi. Ribuan orang menjadi anggota Dewan hanya untuk memperbaiki taraf hirup. Atau malah menjadi anggota Dewan di mata mereka tak ubahnya bursa lowongan kerja. Demikian pula menjadi PNS. Maka kereka datang ke kantor masing masing tiap harinya dengan mindset berapa uang yang dapat mereka bawa ke rumah hari ini.



Jumat, 23 November 2012

Resah tanpa uang


Di kehidupan modern, anda butuh uang untuk bertahan hidup. Anda butuh uang untuk membeli makanan, pakaian, rumah, dan kendaraan. Bila uang tak ada, maka anda resah. Anda tak punya uang untuk membeli apapun untuk bertahan hidup. Masyarakat modern telah membikin sistemnya sendiri, dan sistem itu telah membelenggunya dengan jeratan uang.

Mari kita berandai andai. Hidup tanpa uang. Bisa? Setidaknya kita bisa melihat kehidupan komunitas Baduy, di Kanekes, Banten. Mereka komunitas, seperti kita, yang menciptakan sistem kehidupannya sendiri. Tanpa uang mereka tidak resah. Uang tidak memegang peranan penting dalam kehidupan mereka. Rata rata rumah tangga memiliki kekayaan yang setara, dengan luasan rumah yang setara juga. Untuk kelangsungan hidup, terutama pangan, mereka telah mempunyai sistem ketahanan pangan yang teruji ratusan tahun. Mereka menanam padi, untuk di makan dan disimpan. Tidak ada kisah orang Baduy kelaparan. Mereka punya leuit, lumbung padi tradisional, yang menyimpan padi mereka. Leuit ini kebanyakan menyimpan padi, yang umurnya bahkan bisa 50 tahunan. Luar biasa.

Berbeda dengan masyarakat modern, mereka tidak mengeksploitasi alam secara berlebih. Mereka memilih berdamai dengan alam. Tanah dilarang di rekayasa. Pohon dilarang ditebang. Tak heran, hutan ( leuweung kata mereka) lestari. Mereka tak pernah kekurangan air. Mereka tak pernah kekurangan udara segar. Mereka sehat karena untuk transpotasi dilakukan dengan berjalan kaki. Barangkali tidak ada penyakit diabetes di antara mereka. Primitif?  Sebenarnya yang primitif kita atau mereka?

Senin, 19 November 2012

Budaya Kecelakaan.


Apa yang terjadi bila terjadi kecelakaan di jalan raya? maka terjadilah macet. Berbondong bondong orang 'menyaksikan' atraksi kecelakaan itu. Dalam hitungan menit orang menyemut. Semua orang berebut bicara ketimbang hirau untuk menyelamatkan yang celaka. Para pengendara motor menepi untuk melihat apa yang terjadi. Pengendara mobil melambatkan diri untuk sekedar bertanya atau memberi kesempatan penumpang untuk melongok ke TKP. Kegiatan terhenti untuk sesuatu yang sensasional.

Itulah sebabnya infotainment laris manis. 

Kelakuan Kita itu.


Di posting sebelumnya saya menyoroti kelakuan selebriti kita. Tapi tak kalah menarik sebenarnya kelakuan dari kebanyakan kita. Tak kalah 'aneh' juga. Kita kebanyakan maunya segala sesuatu serba gratisan alias ngak mau bayar. Software gratisan. MP3 gratisan. Kursus gratisan. Sekolah gratisan. Naik angkutan gratisan. Makan siang gratisan. Nonton gratisan. Ujung ujungnya mabuk dan tawuran. Maunya ngak mau bayar. Maunya gratisan melulu. Yang lebih parah dari itu adalah kita sering kali tidak menghargai karya atau hak cipta milik atau hak kekayaan intelektual seseorang. Dengan mudah kita mencomot karya orang lain dan mengobralnya dengan freedownload di situs kita sendiri. Itu sebabnya clickbank ogah nongkrong di Indonesia.

Budaya gratisan ini menyebabkan kereta kita selalu penuh sampai ke atap. Pembagian zakat atau daging kurban selalu ricuh. Kampanye pilkada selalu semrawut dengan pembagian uang dan sembako gratis. Mal mal selalu pasang iklan diskon sampai gratis sepanjang tahun. BLT tetap dinanti. Bela belain sampai demo menuntut THR. Ketemu saudara di hari lebaran, tangan kita sudah kayak pengemis aja. Kalau ada yang gratisan, kenapa harus bayar? Listrik PLN dicuri. Wuuuzzz, jalan jalan ke luar negeri juga gratisan. Bisa? di negeri ini semua serba bisa lah.

Apa yang terjadi bila kita berharap semua serba gratisan. Ya, rejeki yang kita terima juga serba gratisan. Barang gratis itu kebanyakan bukan benda terbaik yang bisa kita peroleh. Harga diri juga hanya sebatas level gratisan. Karena terbiasa gratisan, kita terbiasa kikir karena mind set kita terpola duafa. Rejeki rendah. Harga diri rendah. Kontribusi sosial rendah. Jadilah kita melarat.

Jadi kunci untuk tidak melarat adalah kebalikannya. Punyailah harga diri. Jangan ambil tu BLT. Kalau lebaran jangan nerima, tapi memberi. Beli software, beli album original. Idul adha, sembelih kurban. Jangan cuma mau sate gratisan. Ke mesjid, isi keropak minimal Rp. 50.000,-. Maka jadilah kita orang kaya dengan harga diri pula.

Kelakuan Selebriti Kita.


Kelakuan sebagian selebriti kita sungguh keterlaluan. Terutama yang berprofesi artis dan pengacara. Mereka sepertinya tak segan pamer kekayaan. Kendaraan milyaran, dipamerkan. Rumah, trilyunan mungkin, dipamerkan juga. Belum perhiasan yang dikenakan. Hadiah ulang tahun untuk anak, gila gilaan. Tahu apa seorang anak usia belasan dengan hadiah mobil mewahnya? Dan semuanya diekspos ke publik tanpa rasa malu. Katanya ini adalah ganjaran atas kerja keras mereka selama ini. Pantaskah perilaku mereka?

Menurut saya, kurang pantas. Di tengah masih banyaknya orang miskin di sekitar kita, sungguh keterlaluan sikap mereka itu. Apalagi aksi sosial mereka nyaris tak terdengar. Paling banter mereka mengumpulkan anak anak yatim untuk diajak berdo'a bagi kesehatan mereka. Kontribusinya untuk bangsa, apalagi. Mereka tak lebih orang orang egois yang hidup sendirian tanpa idealisme yang jelas. Sesungguhnya bangsa ini tak perlu mereka. Saya lebih respek kepada mereka yang meninggalkan kenyamanan hidup demi mengajar anak anak di pelosok negeri dan di perbatasan yang sering di abaikan.

Nah, kalau anda sudah punya duit milyaran, jangan kemaruk. 10% saja anda donasikan untuk bea siswa anak anak cerdas mungkin akan membuat perbedaan bagi bangsa ini. Entah 10, 20, atau 50 tahun lagi dari sekarang. Disaat anda sudah dimakan cacing cacing tanah, mungkin yang 10% itu bisa menyelamatkan anda dari api neraka.

Apa yang akan dilakukan bila mendapat duit 15 milyar.


Ya, apa yang akan dilakukan bila anda atau saya mendapat uang 15 M. Uang 15 M ini untuk ukuran orang Indonesia cukup bayak. Setara 1,5 juta dollar juga mungkin banyak untuk orang Amerika. Jadi apa yang akan anda lakukan bila anda memilikinya?

Saya pribadi tetap berpendapat tidak perlu ekspos berlebih bila anda punya uang sebanyak itu. Baik dalam bentuk celotehan, atau penampilan. Berjalanlah seperti orang kebanyakan. Namun keputusan paling cepat saat itu adalah secara administratif membereskan akses terhadap uang dalam kerangka perbankan. Anda tidak akan begitu saja membawa bawa uang cash dalam jumlah banyak dalam dompet anda bukan. Jadi mulai dengan aplikasi ATM dan kartu kredit dari bank yang punya jaringan luas. Pertimbangkan juga untuk membeli produk asuransi yang sesuai. Konversi sebagian uang anda dalam bentuk logam mulia/ mas. Anda mulai bisa menernakannya dengan pola gadai. Jadi uang yang ada diselamatkan dari tergerus inflasi dalam bentuk logam mulia sekaligus menerima pasif income dari ternaknya. 

Nah, mulai menikmati hidup. Jangan sekali sekali untuk pamer kekayaan. Kendarai kendaraan yang dimiliki sekarang sepanjang masih nyaman. Mungkin sedikit memanjakan tubuh tidak ada salahnya. Namun tidak tidak terjebak dalam shopping maniak. Fungsi baju adalah membuat tubuh sehat dan sekedar menerima respek sewajarnya dari orang sekitar. Makan terkendali. Tetaplah sehat.   

Minggu, 18 November 2012

Mimpi Sepele

Kadang kadang mimpi sepele juga menyenangkan. Sekarang bisa berinternet ria cuma bayar gocap ( Rp. 50.000) untuk sebulan. Kecepatan lumayan lah. Kalau disebutin providernya disangka promosi. Tapi, itu lho yang warnanya ungu. 

Mimpi itu menumbuhkan optimisme.



Ya, mimpi dan cita cita itu menumbuhkan optimisme. Seberapa burukpun kondisi anda sekarang, selalu ada alasan bahwa di ujung sana cita cita dan mimpi anda masih menunggu untuk diwujudkan. apakah dijamin apa yang kita cita citakan akan terwujud. Secara pribadi, berdasar pengalaman selama ini, saya percaya. Walaupun mungkin wujud mimpi itu tak selalu harus sama. 

Dulu saya memimpikan hidup di pantai. Sepuluh tahun kemudian saya benar benar tinggal di pantai, bukan atas kehendak sendiri, tetapi karena tuntutan pekerjaan. Waktu SD, sedan yang saya kagumi adalah jenis Honda Accord. Setelah bekerja saya benar benar punya sedan jenis itu. Nyesel juga kenapa ngak mengagumi Jaguar. Law Attraction itu ada benarnya.

Sekarang saya bercita cita jadi milyuner rahasia. Artinya saya punya duit milyaran tanpa seorangpun tahu. Penampilan tetap saya jaga seperti sekarang ini. Sederhana. Namun saya bisa pergi kemana saja dalam hitungan detik. Bila perlu, pake pesawat jet carteran. Teruslah bermimpi.

Travelling, jalan mana yang ditempuh?

Travelling selalu banyak dicita-citakan. Jangan mati dulu sebelum ke Paris. Atau ke Bali. Kenapa Bandung dan Puncak macet saat masa libur? Karena setiap orang berlomba travelling saat itu. Bus bus travel soldout. Mobil mobil rental sami mawon. Anak anak sekolah pun study tour, jatuh jatuhnya travelling juga. Jadi selamanya manusia merindukan travelling. 

Yang membedakan satu travelling dengan travelling lainnya hanya dua saja : cara dan tujuan. Travelling ke Bali dapat dilakukan dengan cara menginap di hotel atau backpacker dengan lesehan di pantai Kuta sampai subuh. Dua cara itu tak selalu bergantung pada duit. Bisa jadi para backpacker itu milioner yang nyari sensasi karena bosan dengan hotel berbintang. Mereka dapat berkomunikasi dengan budaya lokal dengan lebih dekat. 

Tujuan travel sering kali aneh aneh. Orang daerah akan membidik Taman mini, Dufan, dan kini mungkin Trans Studio Bandung. Orang kota bilang, Lu kampungan. Orang metropolitan yang bosan ke mal akan menyerbu gunung dan pantai. Orang setempat bilang, ayo datang lebih banyak kagi, kami akan buka lapak lebih banyak lagi. 

Saya? Kalau kebetulan punya duit lebih suka menikmati tidur kesiangan di kamar hotel. Ngak mau diatur jadwal. Tapi lebih suka bergabung dalam rombongan travel. Ha? Yang jelas noway untuk backpacker. Noway untuk macet ala Bandung on the weekend. Tapi juga bosan dengan pantai seperti pantai Carita. Lebih ngefeel dengan pangandaran. I hate Jakarta. Dasar, sebenarnya kamu ngak punya duit buat jalan jalan, kan?

Ranch, back to nature


Liar. Mimpi bisa kemana saja membawamu pergi. Di satu sisi serasa ingin menikmati kehidupan di atas boat mengarungi teluk biru. Tapi sisi mimpi yang lain mendambakan kehidupan di sebuah ranch. Rumput hijau, sapi sapi yang diperah susunya. Kuda kuda untuk tunggangan. Mungkin di kombinasi leuit ala baduy. Listrik dari panel surya. Atau dari tenaga angin. Air dari mata air. Petiklah sayur mayur setiap pagi. Malam malam bisa memanggang sate dari kambing yang baru saja disembelih. Nikmati gemintang sambil berbaring di rerumputan. Kayak buku buku Lima Sekawan karya Enyd Blyton.

Hidup di atas boat


Mimpi yang diangankan saja sudah sangat mengasyikan adalah hidup diatas boat. Mungkin inilah kemerdekaan sejati. Saya pernah menyaksikan di Youtube satu keluarga dengan dua anak perempuan kecil kecil berkeliling dunia dengan sebuah boat. Wooowww. Mereka dari Norwegia. Sempat singgah di Bali. Untuk urusan pendidikan, ibu mereka yang menangani. Semuanya dilakukan di atas boat. Jadilah keempat anggota keluarga ini menjalani kehidupan yang jarang dilalui keluarga lainnya di dunia. Bonus perkenalan budaya, pemandangan berbagai tempat yang indah di berbagai belahan dunia, dan tentu saja santap ikan setiap hari merupakan nikmat tak terukur buat mereka.

Rasanya saya tak punya nyali sebesar itu untuk membawa keluarga keliling dunia. Kalau saja bisa menangkap ikan tuna sendiri dan menyantapnya pada suatu sore, itu sudah nikmat tiada tara. Apalagi kalau bisa diving siangnya. Dan berjalan jalan di atas pasir putih nan hangat. Minum air kelapa yang disajikan dengan es. Malamnya dancing api unggun. Ya punya boat aja sekalian. Pergi sana ke New Karibia.

Rabu, 14 November 2012

Astral Projection atau Melepas Sukma

Cita cita besar saya yang juga belum kesampaian adalah melakukan Astral Projection (AP) atau melepas sukma atau meragasukma atau Out of Body Experience (OOBE). Entahlah, kenapa saya mempunyai keinginan yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi orang bebas bercita cita. AP sendiri secara sederhana dapat dilukiskan sebagai lepasnya sukma/ roh seseorang dari badannya. Pada orang mati, roh tidak dapat kembali ke tubuh asalnya. Pada AP, roh dapat kembali ke tubuh. Mengerikan? sebenarnya tidak. Malah katanya menyenangkan karena sukma yang melayang itu dapat menjelajah alam mana saja, laut, gunung, luar angkasa, masa lalu, masa depan....

Mungkin anda dapat mendapatkan informasinya lebih dalam Click Here!

Menulis Novel


Dari sekian banyak mimpi mimpi, menulis novel dan mempublikasikannya merupakan tantangan yang terus membayang bayangi hidup saya. Walaupun agak muskil, akhirnya kesampaian juga menulis novel dan 'menerbitkannya' sendiri, serius, lewat nulisbuku.com. Novel itu berjudul 11 Hari Usus Buntu. Dan kini, anda dapat membacanya secara gratis dalam bentuk cerita bersambung di blog Resensi buku ala Esa @ esanugrahaputra.blogspot.com.  

Menonton film kenangan di internet


Salah satu mimpi saya adalah dapat melihat kembali film film yang pernah saya tonton ketika masa kuliah. Ada banyak film yang menjadi perbincangan saat itu. Sebut saja Ghost atau Pretty Woman. Tetapi favorit saya adalah Fugitive-nya Harrison Ford. Eh, minggu ini ketemu juga situs bagus yang memungkinkan kita menonton film film favorit kita dulu secara gratis dan kualitas gambar rata rata HD ( orang Sunda bacanya : hade, artinya bagus). Mungkin ini salah satu mimpi anda yang terkabul, menonton film lama favorit anda : klik disini.