Di posting sebelumnya saya menyoroti kelakuan selebriti kita. Tapi tak kalah menarik sebenarnya kelakuan dari kebanyakan kita. Tak kalah 'aneh' juga. Kita kebanyakan maunya segala sesuatu serba gratisan alias ngak mau bayar. Software gratisan. MP3 gratisan. Kursus gratisan. Sekolah gratisan. Naik angkutan gratisan. Makan siang gratisan. Nonton gratisan. Ujung ujungnya mabuk dan tawuran. Maunya ngak mau bayar. Maunya gratisan melulu. Yang lebih parah dari itu adalah kita sering kali tidak menghargai karya atau hak cipta milik atau hak kekayaan intelektual seseorang. Dengan mudah kita mencomot karya orang lain dan mengobralnya dengan freedownload di situs kita sendiri. Itu sebabnya clickbank ogah nongkrong di Indonesia.
Budaya gratisan ini menyebabkan kereta kita selalu penuh sampai ke atap. Pembagian zakat atau daging kurban selalu ricuh. Kampanye pilkada selalu semrawut dengan pembagian uang dan sembako gratis. Mal mal selalu pasang iklan diskon sampai gratis sepanjang tahun. BLT tetap dinanti. Bela belain sampai demo menuntut THR. Ketemu saudara di hari lebaran, tangan kita sudah kayak pengemis aja. Kalau ada yang gratisan, kenapa harus bayar? Listrik PLN dicuri. Wuuuzzz, jalan jalan ke luar negeri juga gratisan. Bisa? di negeri ini semua serba bisa lah.
Apa yang terjadi bila kita berharap semua serba gratisan. Ya, rejeki yang kita terima juga serba gratisan. Barang gratis itu kebanyakan bukan benda terbaik yang bisa kita peroleh. Harga diri juga hanya sebatas level gratisan. Karena terbiasa gratisan, kita terbiasa kikir karena mind set kita terpola duafa. Rejeki rendah. Harga diri rendah. Kontribusi sosial rendah. Jadilah kita melarat.
Jadi kunci untuk tidak melarat adalah kebalikannya. Punyailah harga diri. Jangan ambil tu BLT. Kalau lebaran jangan nerima, tapi memberi. Beli software, beli album original. Idul adha, sembelih kurban. Jangan cuma mau sate gratisan. Ke mesjid, isi keropak minimal Rp. 50.000,-. Maka jadilah kita orang kaya dengan harga diri pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar