Salah satu kisah favorit saya adalah Luqman. Dia adalah kakek dari nabi Isa (Jesus dalam lidah Kristen). Pada suatu hari dia membawa lidah dan hati kambing dengan cara atraktif. Luqman bukan tipe orang yang suka cari perhatian. Namun tindak tanduknya kali ini memang agak nyeleneh. Dia mendatangi sekumpulan orang orang yang sedang bergosip. Lalu bertanya : Apakah benda paling buruk di dunia? Orang orang menggelengkan kepala, antara bingung dan aneh. Luqman sendiri yang menjawab : dua benda inilah.... katanya sambil memperlihatkan lidah dan hati kambing tadi. Keruan orang yang berkerumun dan penasaran makin bertambah banyak. Salah satu hadirin kemudian bertanya : kalau begitu, hay Luqman, benda apakah paling baik sedunia? Luqman menyeruak kerumunan tanpa banyak berkata kata, bergegas pergi. Nampaknya dia sedang mencari mencari barang yang dipertanyakan itu. Orang orang masih berkerumun menunggu. Menunggu atraksi Luqman berikutnya. Akhirnya dia kembali, dan memperlihatkan dua buah benda. Nah, inilah barang terbaik di dunia, katanya. Masih lidah dan hati kambing yang sama.
Kisah ini penting. Peperangan peperangan besar dalam sejarah lahir karena dengki. Banyak orang berpendapat perang salib adalah perang agama. Kalau saya melihatnya sebagai iri hati orang orang Eropa terhadap orang Arab yang lebih maju dan makmur kala itu.
Dengki yang tidak terkendali melahirkan hasad (niat mencelakai) dan dendam kesumat. Potensi dengki ini sungguh unik dalam skala besar. Bayangkan kondisi dengki atau iri hati dalam sebuah bangsa. Apakah potensi yang menyebabkan dengki dalam skala masal itu? Apalagi kalau buka urusan perut. Orang menyebutnya kesenjangan sosial. Segelintir orang superkaya pamer kekayaan. 90% orang tidak kaya sepakat untuk dengki dan hasad. Maka terjadilah revolusi sosial. Anda ingat 'revolusi' tahun1997 yang menjungkalkan seorang presiden di negeri ini? saya lebih melihatnya sebagai dua hal yang saling berhadap hadapan : segelintir orang makmur yang serakah dan suka pamer VS orang orang lapar yang kalah dan berontak menggugat nasibnya.
Potensi dengki ini hanya dapat di cegah dengan keadilan para pemimpinnya. Pemimpin yang adil di kantor dapat menghindari kadar dengki di antara para karyawannya dan menghindari gesekan gesekan yang tidak perlu. Pemimpin yang adil lebih suka berlelah lelah membagikan kartu sehat kepada masyarakat kantong cekak. Urusan urusan besar model masterplan mah sudah banyak orang pinter yang ngurusi.
Terakhir saya ingin mengutip lelucon Gus Dur dalam kisah tiga orang yang terkatung katung di samudra luas akibat kapal mereka kandas. Ketiga orang itu berasal dari Amerika, Jepang, dan Indonesia berpegang pada sebongkah kayu yang terapung. Masing masing berdo'a demi keselamatan jiwa mereka. Tuhan mendengar do'a mereka. Dikirimlah para malaikat berdasar kebangsaan (memang malaikat punya kebangsaan?). Datanglah malaikat Amerika. Dia bertanya kepada si Amerika. Apa yang kau inginkan? Selamatkan aku! kata si Amrik. Maka malaikat Amrikpun menyelamatkannya. Dia dikembalikan ke rumahnya di Amerika. Kemudian datanglah malaikat Jepang dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama pula. Melihat rekan rekannya diprioritaskan, maka menggelegaklah api dengki dalam hati orang Indonesia. Pikirirannya gelap dibalut amarah. Maka ketika akhirnya datang juga malaikat Indonesia dan bertanya apa yang kau mau, maka tanpa pikir panjang si Indonesia menjawab : kembalikan dua rekanku ke sini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar